Menganalisis Kesahihan Hadis Tentang Kewajiban Mencari Ilmu

Hadist Tentang Kewajiban Menuntut Ilmu

Hadis tentang Kewajiban Mencari Ilmu: Analisis Kesahihan Hadis 

Dalam mencari kesahihan sebuah hadist akan suatu perintah ataupun suatu larangannya, semestinya kita harus senantiasa menganalisis dan menelaah lebih jauh pesan dan sebab musabab dari adanya sebuah hadist tersbut. Karena dengan hal itu maka kita akan senantiasa bisa dan paham akan sebuah hadist yang diriwayatkan oleh para sahabat Nabi Muhammad saw. sebagai orang terdekat dan berada satu zaman dengan beliau.

Berikut kita akan mencoba menganalisis sebuah hadist tentang kewajiban umat muslim dalam mencari ilmu :

Di antara hadis yang sangat populer tentang kewajiban mencari ilmu adalah sebagai berikut:

حَدَّثنََا هِشَامُ بْنُ عَمَّا ر حَدَّثنََا حَفْصُ بْنُ سُليَْمَانَ حَدَّثنََا كَثِيرُ بْنُ شِنْظِي ر عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ  سِيرِين عَنْ أنَسَِ بْنِ مَالِ ك قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَِّّ طَلَبُ اْلعِلْمِ فَرِيْضَةٌ عَلَى كُلِّ مُسْلِمٍ (رواه ابن ماجه)

Artinya: 
“Rasulullah saw bersabda: mencari ilmu itu wajib atas setiap orang Muslim” (HR. Ibn Majah, 220) 




Hadis yang diriwayatkan pertama kali oleh Anas bin Malik salah seorang sahabat terdekat Rasulullah ini dapat dijumpai di banyak kitab hadis, antara lain di Sunan Ibn Majah yang merupakan salah satu di antara enam kitab Hadis (al-Kutub alSittah) yang mu’tabar yakni diakui dan dijadikan referensi. 

Selain Anas bin Malik, sahabat Rasulullah yang juga meriwayatkan hadis ini adalah Abu Said al-Khudri sebagaimana disebutkan dalam kitab Musnad al-Syihab karya Muhammad Ibn Salamah Ibn Ja’far. 

Karena banyaknya kitab yang mencantumkan hadis ini, maka hadis inipun sangat sering dikutip dalam karya-karya ilmiah, buku-buku maupun tulisan populer serta kerap juga diungkap dalam seminar dan ceramah-ceramah. 

Namun demikian, Ibn Majah sendiri menganggap hadis ini termasuk hadis dha’if (lemah, tidak sahih). Kelemahan hadis ini terletak pada seorang rawinya yang ada pada rangkaian sanad yaitu Hafash bin Sulaiman yang dinilai tidak tsiqah oleh Yahya bin Ma’in dan dikatakan matruk oleh Ahmad bin Hanbal dan al-Bukhari. 

Namun selain itu juga, hadis serupa diriwayatkan pula melalui jalur Ibn Mas’ud yang diriwayatkan oleh al-Thabrani nomor 12682 dan jalur Abu Sa’id yang diriwayatkan oleh al-Baihaqi nomor 1759. Keberadaan jalur lain dapat menguatkan jalur hadis yang ada. 
 
Meskipun hadis di atas dha’if dari sisi perawi, akan tetapi kandungan matannya sejalan dengan ajaran Alquran yang memerintahkan kaum Muslimin menggali pengetahuan, antara lain surat al-Taubah ayat 122 dan surat al-‘Alaq ayat 1-5.  

Perintah mencari ilmu ini, betul-betul diperhatikan oleh kaum Muslimin sehingga sejak awal perkembangan peradaban Islam aktivitas belajar dan mengajar sangat intensif dilakukan. Beberapa sahabat dikirim oleh Rasulullah ke berbagai tempat seperti Yaman, Syam dan Mesir untuk memberikan pengajaran. Setelah itu, di masa tabi’in banyak pencari ilmu yang melakukan rihlah ilmiyah yakni pengembaraan dalam rangka mencari ilmu.  

Rihlah ilmiyah dilakukan karena kebanyakan pelajar Islam tidak puas dengan pengetahuan yang diperoleh dari belajar kepada sedikit guru. Karena itu, mereka tidak segan-segan melakukan perjalanan jauh untuk belajar pada guru di kota-kota yang mereka tuju. 

Dengan aktivitas rihlah ilmiyah ini, pendidikan Islam sejak masa klasik tidak terbatasi oleh dinding ruang belajar. Sebaliknya, pendidikan Islam memberi kebebasan kepada murid-murid untuk belajar kepada guru-guru yang mereka kehendaki. 

Selain murid-murid, guru-guru juga melakukan perjalanan dan berpindah dari satu kota ke kota lain untuk mengajar sekaligus belajar. Dengan demikian aktivitas rihlah ilmiyah menjadi cikal bakal lahirnya learning society (masyarakat belajar).   

Kesediaan melakukan perjalanan jauh sekalipun untuk mencari ilmu tidak terlepas dari dorongan Rasulullah saw dalam sebuah hadis:
  
“Rasulullah saw bersabda: “Carilah ilmu walau sampai ke negeri Cina” 
 
Hadis ini mengisyaratkan bahwa mencari ilmu itu harus dilakukan walaupun untuk memperolehnya seseorang harus melakukan perjalanan jauh. Sebab siapa yang tidak tabah menghadapi kesulitan belajar, dia akan menjalani sisa hidupnya dalam kebodohan, dan siapa yang bersabar dalam mencari ilmu maka dia akan meraih kemuliaan di dunia dan di akhirat.  

Perintah untuk mencari ilmu sampai ke negeri China mengisyaratkan pula perintah untuk bersikap terbuka menerima kebenaran dari manapun datangnya kebenaran tersebut. Orang-orang bijak sering memberikan nasehat yang berbunyi
 
خذ الحكمٍ من أي وعاء خرجت 

Artinya: 
“Ambillah hikmah (pengetahuan/pelajaran) dari manapun datangnya”. 

Begitu juga nasehat lain yang berbunyi:

الحكمٍ ضالٍ المؤمن أنى وجدها فليلتقطها 

Artinya: 
“Hikmah adalah sesuatu yang hilang dari seorang mukmin, maka di manapun dia menemukannya hendaklah dia mengambilnya” 

Selain berimplikasi pada aktivitas mencari ilmu secara individual, hadis Rasulullah tentang kewajiban belajar ini mendorong lahirnya lembaga-lembaga pendidikan Islam baik yang formal maupun informal. Perbedaan antara formal dan informal dalam pendidikan Islam di masa klasik terlihat pada hubungannya dengan negara. 

Lembaga pendidikan formal adalah lembaga pendidikan yang didirikan oleh negara untuk mempersiapkan pemuda-pemuda Islam agar menguasai pengetahuan agama dan berperan dalam agama, atau menjadi tenaga birokrasi, atau pegawai pemerintahan. Lembaga-lembaga pendidikan formal ini dibiayai oleh negara dan dibantu oleh orang-orang kaya melalui wakaf yang mereka berikan. Pengelolaan administrasi berada di tangan penguasa. Sedangkan lembaga pendidikan informal tidak dikelola oleh negara, melainkan oleh swasta atau swadaya masyarakat. 
   
Di antara bentuk lembaga-lembaga pendidikan Islam di masa klasik adalah: 
  1. Maktab/Kuttab yang merupakan lembaga pendidikan dasar 
  2. Halaqah, yang merupakan pendidikan tingkat lanjut setingkat dengan college. 
  3. Majlis, yakni kegiatan transmisi keilmuan dari berbagi disiplin ilmu 
  4. Masjid Jami atau univesitas, seperti Masjid Jami al-Azhar di Cairo, Masjid alManshur di Baghdad, dan Masjid Umayyah di Damaskus. 
  5. Khan yaitu asrama pelajar atau tempat belajar secara privat. 
  6. Ribath yaitu tempat kegiatan kaum sufi 
  7. Rumah-rumah ulama 
  8. Perpustakaan
  9. Observatorium seperti Baitul Hikmah yang dibangun oleh al-Makmun di Baghdad dan Darul Hikmah yang dibangun oleh al-Hakim di Mesir. Selain itu ada observatorium Dinasti Hamadan yang dikelola oleh Ibn Sina dan observatorium Umar Khayyam. 
 
Banyaknya lembaga-lembaga keilmuan di atas sejak masa klasik bahkan hingga hari ini menunjukkan bahwa ilmu memiliki urgensi yang sangat tinggi dalam perikehidupan manusia. Dengan ilmu manusia dapat menciptakan kebudayaan dan membangun peradaban. Dengan ilmu pula manusia dapat mengatur tata kehidupan dan pola interaksi sesama manusia. Hadis yang diriwayatkan oleh al-Turmudzi berikut menjelaskan sebagian fungsi ilmu: 

Rasulullah saw bersabda “Sesungguhnya diantara tanda-tanda hari kiamat adalah hilangnya ilmu, merebaknya kebodohan, menyebarnya perzinaan, dan semakin banyak orang minum khamar. (HR. Turmudzi) 
 
Hadis yang dinilai sahih oleh Imam al-Turmudzi ini menjelaskan bahwa kiamat, kehancuran alam, tidak akan terjadi selama ilmu masih menjadi panduan kehidupan manusia. Sebaliknya, hilangnya ilmu merupakan salah satu sebab akan datangnya hari kehancuran tersebut. Hal ini karena dengan tanpa ilmu manusia akan mengalami kebodohan. 

Kebodohan inilah yang akan menyebabkan mereka melakukan pelanggaran dan perusakan di muka bumi. Dalam hadis lain yang diriwayatkan oleh al- Bukhari dikatakan bahwa hilangnya ilmu akan menyebabkan terjadinya banyak pembunuhan. Semua tindakan negatif itu akan mengantarkan pada bencana yang lebih besar yaitu kehancuran alam semesta, atau yang disebut kiamat. 

Telah jelas kiranya hadis-hadis tentang kewajiban mencari ilmu berikut analisis kesahihannya. Dengan segala fungsinya, hadis tersebut menegaskan kepada kita bahwa bekal untuk dapat hidup dengan baik di dunia adalah ilmu. Kebaikan ini pula yang akan mengantarkan kepada kebaikan abadi di akhirat kelak. 

Selain berperan penting dan memberikan manfaat yang positif dalam kehidupan manusia, ilmu juga menempatkan pemiliknya pada kedudukan istimewa di antara manusia dan makhluk-makhluk Allah yang lain. Hal ini sebagaimana disampaikan dalam hadis riwayat Abu Dawud berikut: 

حَدَّثنََا مُسَدَّدُ بْنُ مُسَرْهَ د حَدَّ ثنََا عَبْدُ اللَِّّ بْنُ دَاوُدَ سَمِعْتُ عَاصِمَ بْنَ رَجَاءِ بْنِ حَيْوَةَ يحَُ دِثُ عَنْ دَاوُدَ بْنِ جَمِي ل عَنْ كَثيِرِ بْنِ قَيْ س قَالَ كُنْتُ جَالِسًا مَعَ أبَيِ الدَّرْدَاءِ فيِ مَسْجِدِ دِمَشْقَ فَجَاءَهُ رَجُلٌ فَقَالَ يَا أبََا الدَّرْدَاءِ  إنِ يِ جِئتْكَُ مِنْ مَدِينَ ٍَِ الرَّسُولِ صَلىَّ اللَُّّ عَليَْهِ وَسَلمََّ لِحَدِي ث بَلغََنِي أنَكََّ تحَُ دِثهُُ عَنْ رَسُولِ اللَِّّ صَلىَّ اللَُّّ عَليَْهِ وَسَلمََّ مَا جِئتُْ لِحَاجَ ٍ قَالَ فَ إنِِ ي سَمِعْتُ رَسُولَ اللَِّّ صَلىَّ اللَُّّ عَليَْهِ  وَسَلمََّ يَقوُلُ مَنْ سَلَكَ طَرِيقاً يطَْلبُُ فيِهِ عِلْمًا سَلَكَ اللَُّّ بِهِ طَرِيقاً مِنْ طُرُقِ الْجَنَّ ٍِ وَإِنَّ الْمَلََئكٍََِ لتَضََعُ أجَْنِحَتهََا رِضًا لِطَالِبِ الْعِلْمِ وَإِنَّ الْعَا لِ مَ ليََسْتغَْفِرُ لَهُ مَنْ فيِ السَّمَوَاتِ وَمَنْ فيِ الْْرَْضِ وَالْحِيتاَنُ فيِ جَوْ ُِ الْمَاءِ وَإِنَّ فَضْلَ الْعَالِمِ عَلىَ الْعَابِدِ كَفَضْلِ الْقمََرِ ليَْلٍََ الْبَدْرِ عَلىَ سَائرِِ الْكَوَاكِبِ وَإِنَّ الْعلُمََاءَ وَرَثٍَُ الْْ نَْبيَِاءِ وَإِنَّ الْْنَْبيَِاءَ لَمْ يوَُ رِثوُا دِينَارًا وَلَ دِرْ هَمًا وَرَّثوُا الْعِلْمَ فمََنْ أخََذَهُ أخََذَ بِحَ  ظ وَاف رِ  

Artinya: 
“Rasulullah saw bersabda: ‘Siapa yang menempuh perjalanan untuk mencari ilmu, maka Allah menyertainya berjalan menuju surga. Sesungguhnya para malaikat merendahkan sayap-sayap mereka karena ridha terhadap pencari ilmu. Dan sesungguhnya orang yang berilmu dimohonkan ampunan oleh makhluk-makhluk penghuni langit dan bumi bahkan oleh ikan di dalam air. Sungguh keutamaan seorang alim ahli ilmu) dibanding dengan seorang abid (ahli ibadah) adalah seperti cahaya bulan purnama dibanding cahaya bintang-bintang. Sesungguhnya para ulama adalah pewaris para nabi, dan sesungguhnya para nabi tidak mewariskan dinar ataupun dirham akan tetapi mereka mewariskan ilmu, siapa mendapatkannya akan memperoleh keberuntungan yang besar.” (HR. Abu Dawud, 3157) 
 
Berdasarkan hadis tersebut, terdapat lima keistimewaan bagi orang yang berilmu, yaitu: 

1. Diiringi perjalannya oleh Allah menuju surga 

Surga adalah kehidupan yang diidentikkan dengan keindahan, kesenangan, kenikmatan, kedamaian, kesejahteraan, kenyamanan dan sebagainya. Orang yang sedang berusaha dengan sungguh-sungguh mencari ilmu dan bersabar serta tabah menghadapi segala kesulitan yang ada, akan dibantu oleh Allah sehingga dia berhasil menikmati buah ilmu itu di dunia maupun akhirat. Bangsa-bangsa yang makmur dan sejahtera adalah bangsa-bangsa yang hidup dengan memanfaatkan ilmu pengetahuan.  

2. Diridhai oleh para malaikat 

Malaikat selalu memberikan ilham, inspirasi dan bimbingan ke arah yang positif kepada manusia. Sebaliknya, syetan selalu membisikan hal-hal jahat dan negatif. Dengan ridha dari malaikat, pencari ilmu yang sungguh-sungguh akan cenderung kepada hal-hal yang positif.  

3. Didoakan oleh makhluk-makhluk yang ada di darat, di udara serta yang ada di dalam air. 

Sering muncul berita di media massa bahwa sekelompok ilmuwan mengemukakan ide untuk melindungi jenis-jenis binatang dan berbagai macam tanaman dari kepunahan. Maka, lahirlah undang-undang dan peraturanperaturan untuk konservasi alam. Ilmuwan pula yang terus mengingatkan bahaya pencemaran udara terhadap lapisan ozon yang pada jangka panjang akan berakibat buruk pada kehidupan bumi. 

Begitu juga para ilmuwan yang menyelamatkan ikan-ikan besar yang tersesat sehingga terdampar dan sekarat di pantai, lalu para ilmuwan itulah yang berinisiatif membawa mereka kembali ke tengah lautan. Pemikiran untuk menyelamatkan binatang tumbuhan, atau air dan udara tidak lahir dari pengusaha, Pedagang atau pemburu yang hanya memikirkan bagaimana mengambil keuntungan dan kesenangan dari semua itu. Melainkan dari orang yang mengerti dan memahami untuk keberlangsungan hidup dan alam dalam jangka panjang. 

4. Dinilai lebih utama dibanding ahli ibadah 

Argumen yang paling rasional untuk pernyataan ini adalah bahwa manfaat dari ilmu yang dimiliki seorang alim dirasakan bukan hanya oleh dirinya sendiri, tetapi juga oleh orang banyak. Sedangkan manfaat ibadah seseorang lebih dirasakan oleh dirinya sendiri, meskipun dapat pula memberi inspirasi pada orang lain. 

5. Dinyatakan sebagai pewaris para nabi 

Keberlangsungan ajaran para nabi dijaga oleh para ulama yang secara turun temurun dari generasi ke generasi mengajarkan konsep-konsep akidah, tata cara beribadah, prinsip-prinsip akhlak, dan aturan-aturan bermuamalah yang telah disampaikan para nabi. Karena itulah mereka disebut pewaris nabi; dan hal itu merupakan kehormatan yang besar. 




Demikian, jelaslah bahwa orang yang berilmu diberikan banyak maziya (keistimewaan). Keistimewaan ini semata diberikan oleh Allah karena ilmu yang dimilikinya. Maka, tatkala ilmu itu hilang, hilang pulalah keistimewaannya. 
 
Itulah artikel pembahasan tentang menganalisis kesahihan sebuah hadist tentang kewajiban umat muslim dalam menuntut ilmu. Semoga bermanfaat dan mudah untuk dipahami. Artikel ini dibuat dengan merujuk atau melihat refrensi modul Al-Quran dan Hadist Kegiatan Belajar 2 Dalam Kegiatan Pendidikan Profesi Guru (PPG) Dalam Jabatan Tahun 2021. Terima kasih semua.

Advertisement

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Menganalisis Kesahihan Hadis Tentang Kewajiban Mencari Ilmu"

Post a Comment